Senin, 07 Januari 2019

Hati kita yang patah

Segaris awan di langit biru menjadi saksi kita sore ini, menertawakan diri dalam diam, mencoba mengubur semua rasa. aku selalu saja kalah, kata mu sambil mengecap mocca late favoritmu sore ini. aku egois dengan rasa kita, ucapmu lagi. dan lagi, aku terus saja menundukkan pandanganku, seakan aku sedang mencari pembenaran dari ujung sepatuku. Ah,, punya nyali apa aku untuk membalas argumenmu, bahkan menatap wajahmu saja aku tak mampu. aku terus mencoba perbaiki hatiku sesuai maumu, tapi tetap saja aku patah. lidahku terlalu keluh untuk bicara, jangan tanyakan reaksi jantungku saat ini, masih seperti dulu, dia tau siapa pemilik cintanya. entah sejak kapan tatapanmu sudah menjurus padaku, sangat dalam. jelas saja aku panik, bagaimana bisa aku menatapmu, ah kamu curang.
"aku patah, selama ini hati ku masih saja patah, bodohnya aku yang terlalu egois saat itu, hingga aku kehilangan rumahku hingga saat ini" katamu masih dengan mata indahmu.
"bukan kamu, tp kita. kita berdua patah. kita berdua kehilangan rumah ternyaman kita 3tahun lalu" ku coba cecap kopi yang aku pesan tadi. pahit, tapi manis.
kita adalah 2 manusia yang dengan sengaja mematahkan hati 3 tahun lalu, dengan sadar membentuk benteng ego, memilih patah dengan alasan bersiap untuk terbang. kita patah. kita sama-sama patah hingga detik ini. memilih saling melepas di persimpangan jalan,  kita kira waktu itu kita akan menemukan rumah baru di jalan baru yang kita pilih, nyatanya hingga saat ini kita terus saja merasa salah. tidak ada rumah yang benar-benar rumah selain kamu, kataku. tidak ada tempat kembali ternyaman selain kamu, katamu.
ku coba teguk kopi yang terus saja menggodaku di gelas transparan ini, pahit, tapi manis. aku luka, kamu luka, kita sama-sama luka, tapi kamu jadi lebih manis. aku suka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar