Kamis, 10 Januari 2019

teruntuk kamu yang hati nya patah

teruntuk kamu yang sedang patah hati..
menangislah semampu air mata mu.
teriaklah sekuat pita suaramu.
persetan dengan omongan mereka diluar sana.
tidak ada hati yang benar-benar baik setelah di patahkan, langit saja membutuhkan waktu untuk menghadirkan pelangi setelah hujan.

banyak orang punya pandangan aneh tentang bersedih setelah patah hati, seakan kamu adalah manusia terbodoh di dunia ini. seakan kamu harus cepat-cepat bahagia setelah patah hati.
Tapi tidak, seperti hujan di tepi senja, kamu harus membiarkan setiap sedih yang ada.

setiap kematian butuh peratapan, begitupun cinta yang telah mati.
maka lakukanlah apa yang orang patah hati lakukan,
menangis hingga kamu tidak bisa mendengar suaramu sendiri,
makan coklat sebanyak-banyak nya
mandi air panas hingga jarimu pucat.
pergi ke cafe dengan tatapan nanar, pesan 1 buah es teh manis, karena kopi mungkin terlalu pahit untuk di minum di saat seperti ini.

izikan diri mu untuk bersedih.
menangislah seakan ini yang terakhir kali nya kamu di kecewakan seseorang
menangislah seakan kamu lupa caranya berharap

teruntuk orang yang baru patah hati,
saat kamu bosan dengan dirimu yang bersedih.
inilah saatnya kamu mengangkat kepalamu kembali.

mulai dengan hal yang mudah,
kamu bisa mencoba mengambil gitar dan mengambil nada-nada mayor yang bahagia.
ambil piano dan bermain soneta yang indah,
atau jika kamu tidak bisa bermain musik, lihatlah dirimu di depan cermin dan bersenandunglah.
lalu diantara nada-nada itu, bisikkan kepada dirimu sendiri
AKU PANTAS UNTUK BAHAGIA

kepada orang yang baru patah hati,
selalu ada teman untuk menemani kamu.
pergilah bertemu temanmu
tertawalah sampai lupa waktu,
tanyakan kabar teman yang lain,
pamerlah keberhasilanmu,
dan jika memungkinkan,, nongkronglah sampai kamu di usir dari tempat itu

memang sih, kenangan tentang dirinya kadang masih sering mengganggu,
tempat yang pernah kalian datangi, tidak akan terasa sama.
teman yang belum tau, mungkin akan menghampirimu dan bertanya "si dia mana ya?" dan kamu akan balas dengan senyum tipis, entah bagaimana menjawabnya.
tapi percayalah satu hal, semua ini akan berlalu,
sama seperti hal lain di dunia, semua hal buruk pasti akan beranjak pergi,
hujan akan berganti langit biru,
gelap akan berganti terang,
dan air mata akan berganti senyum tipis.

-RD

Senin, 07 Januari 2019

Hati kita yang patah

Segaris awan di langit biru menjadi saksi kita sore ini, menertawakan diri dalam diam, mencoba mengubur semua rasa. aku selalu saja kalah, kata mu sambil mengecap mocca late favoritmu sore ini. aku egois dengan rasa kita, ucapmu lagi. dan lagi, aku terus saja menundukkan pandanganku, seakan aku sedang mencari pembenaran dari ujung sepatuku. Ah,, punya nyali apa aku untuk membalas argumenmu, bahkan menatap wajahmu saja aku tak mampu. aku terus mencoba perbaiki hatiku sesuai maumu, tapi tetap saja aku patah. lidahku terlalu keluh untuk bicara, jangan tanyakan reaksi jantungku saat ini, masih seperti dulu, dia tau siapa pemilik cintanya. entah sejak kapan tatapanmu sudah menjurus padaku, sangat dalam. jelas saja aku panik, bagaimana bisa aku menatapmu, ah kamu curang.
"aku patah, selama ini hati ku masih saja patah, bodohnya aku yang terlalu egois saat itu, hingga aku kehilangan rumahku hingga saat ini" katamu masih dengan mata indahmu.
"bukan kamu, tp kita. kita berdua patah. kita berdua kehilangan rumah ternyaman kita 3tahun lalu" ku coba cecap kopi yang aku pesan tadi. pahit, tapi manis.
kita adalah 2 manusia yang dengan sengaja mematahkan hati 3 tahun lalu, dengan sadar membentuk benteng ego, memilih patah dengan alasan bersiap untuk terbang. kita patah. kita sama-sama patah hingga detik ini. memilih saling melepas di persimpangan jalan,  kita kira waktu itu kita akan menemukan rumah baru di jalan baru yang kita pilih, nyatanya hingga saat ini kita terus saja merasa salah. tidak ada rumah yang benar-benar rumah selain kamu, kataku. tidak ada tempat kembali ternyaman selain kamu, katamu.
ku coba teguk kopi yang terus saja menggodaku di gelas transparan ini, pahit, tapi manis. aku luka, kamu luka, kita sama-sama luka, tapi kamu jadi lebih manis. aku suka